Buni Yani Dijerat Dalam Dua Pasal

Buni Yani Dijerat Dalam Dua Pasal


Live Poker IndonesiaBuni Yani, pengunggah video pidato Ahok sampai melambung, dijerat dua pasal. Dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Bandung, Jalan RE Martadinata, Bandung, Jawa Barat, Selasa (13/6), jaksa Andi Muhammad Taufik menilainya terdakwa sudah tidak mematuhi Undang-Undang nomor 11 th. 2008 mengenai Info serta Transaksi Elektronik.

Pasal pertama yang didakwakan pada Buni yaitu pasal 32 ayat 1 junto Pasal 48 ayat 1. Jaksa menilainya Buni Yani sudah merubah, mengakibatkan kerusakan, serta sembunyikan info elektronik punya orang lain maupun umum berbentuk video pidato bekas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja 'Ahok' Purnama di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Dari keseluruhan video selama 1 jam 48 menit, dipangkas jadi 30 detik, yang ada di menit ke 24. 00 hingga menit 25. 00.

Judi Online TerpercayaMenurut Andi, terdakwa tahu ada kata 'pakai' yang disampaikan oleh saksi Ahok. " Tetapi terdakwa dengan berniat menyingkirkan kata 'pakai' saat mentranskripsikan perkataan saksi Ahok dalam dinding (wall) dalam akun terdakwa pada sosial media Facebook, " tutur jaksa Andi.

Ke-2, pasal 28 ayat 2 jo pasal 45 ayat 2 UU ITE. " Hingga perbuatan terdakwa itu menyebabkan kebencian atau permusuhan umat Islam pada saksi Ahok yang beretnis Tionghoa serta beragama non-Islam, " tutur Andi seperti dinukil.

Buni Yani menampik dakwaan pertama. Sebab, pasal ini pasal penambahan yang lalu nampak. " Saya tidak tahu pasal 32 UU ITE, karna (saya) tidak sempat di check oleh penyidik, " katanya dalam sidang.

Hakim M Saptono menerangkan, Jaksa Penuntut mendakwa dengan bentuk dakwaan alternatif. " Hak saudara didampingi penasehat hukum yaitu untuk menyikapi itu. Keharusan jaksa penuntut umum menunjukkan dakwaannya, " tutur Hakim Ketua, M Saptono.

Kuasa Hukum Buni Yani, Aldwin Rahadian menampik dakwaan yang menyebutkan bila Buni Yani merubah, mengedit rekaman video itu. " Dakwaan JPU itu tidak berdasarkan serta bohong, " katanya.

Menurutnya, Buni Yani cuma mengunggah lagi video itu. " Jadi kami bakal menampik dakwaan serta mengemukakan keberatan (eksepsi), " katanya.

Jaksa menyebutkan, dengan dua jeratan pasal ini ancaman hukumannya 8 th. serta 6 th.. Pasal 32 ini berisi ancaman maksimum 8 th. penjara. Atau dapat pula ditambah denda maksimum Rp2 miliar. Sedang pasal 28, ancamannya maksimum 6 th. atau dapat ditambah denda maksimum Rp1 miliar.

Subscribe to receive free email updates: